Ini Perjuangan Komunikasi Gugus Tugas

1 post / 0 new
sudrajats
Ini Perjuangan Komunikasi Gugus Tugas

Dua bulan sudah Indonesia berjibaku melawan pandemi virus corona yg hingga kini   belum pula usai. Sejumlah hal dilakukan guna meminimalisir penyebaran Covid-19 ini.

Sederet tantangan harus dihadapi guna memerangi virus corona ini. Salah satu tantangannya adalah bagaimana mengelola komunikasi publik sehingga sanggup memberikan pemahaman yang bisa tersampaikan menggunakan baik ke masyarakat.

Direktur Jenderal Informasi & Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi & Informatika, Widodo Muktiyo berkata bahwa hal yang menjadi hambatan tersebut salah  satunya merupakan faktor geografi Indonesia yg terdiri menurut poly pulau & ragam kebudayaan tiap wilayahnya.

"Ada yang pada kota ada yg di pelosok sampai dalam yang di terpencil," istilah Widodo beberapa saat lalu.

Berbagai bentuk respon pula muncul pada tengah warga . Mulai menurut yang belum tahu menjadi belum percaya kemudian memicu kepanikan hingga pada akhirnya membarui perilaku rakyat dan berujung stres.

"Paniknya tidak hanya ada di pada diri kita, akan tetapi paniknya sampai dalam perilaku ekonominya. Ada panic buying, dibeli macam-macam itu," kentara Widodo.

Dia jua mengatakan, selain bagaimana panik menimbulkan imbas negatif, stres juga sebagai galat satu hal yg harus digaris bawahi. Menurutnya, stres sanggup jua disebabkan sang suatu keadaan masyarakat yang dipaksa untuk mengubah pola kehidupan sehari-hari, menurut yg awalnya berjalan normal, sebagai dibatasi dan diatur ruang geraknya.

"Ini kan gaya hayati baru yang dipaksa harus ikut, setelah (warga ) tahu. Nah di situlah lalu terjadi satu situasi yang di pada famili itu sebagai sesuatu yang baru, dipaksa, punya implikasi yang lebih luas lagi," tuturnya.

Sementara itu, menjelang berakhirnya Ramadan hambatan lain yang muncul adalah bagaimana memberikan pemahaman kepada rakyat terkait dengan pulang kampung lebaran.

"Dalam dirinya terdapat suatu keinginan namun kemudian harus (dipaksa) mengerti bahwa situasi ini akan merugikan semua," kentara widodo.

Oleh karena itu, Tim Komunikasi Publik tak henti menaruh layanan fakta dan komunikasi memakai bahasa yang sederhana & mudah dipahami agar rakyat dapat menerima & memahami ketentuan & anggaran yg diambil pemerintah demi memutus rantai penyebaran COVID-19.

Selanjutnya, dalam penanganan pandemi Covid-19 dibuat "Protokol Komunikasi Publik Penanganan Covid-19". Tujuannya merupakan membangun agama publik supaya penanganan bisa berjalan lancar. Protokol ini berlaku baik buat pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun non-government.

"Kita memastikan keterangan yg akurat, cepat, bisa dianggap buat disebar kepada warga  luas melalui berbagai kanal fakta," ujarnya.

Ada empat pilar komunikasi publik yang sudah ditetapkan yaitu himbauan warga  tetap tenang & waspada, koordinasi dengan instansi terkait, anugerah akses warta ke media dan pengarusutamaan gerakan "cuci tangan dengan sabun".

Komunikasi publik diarahkan buat Behavioral Change melalui komunikasi publik yg sistematis dan komprehensif untuk memutus mata rantai Covid-19 terutama dengan memastikan physical distancing. Atas target tadi, Satgas Penanganan Covid-19 bidang komunikasi publik, tetapkan 6 turunan pesan kunci, DirumahAja, tidak boleh berdekatan, tidak boleh berkumpul, cuci Tangan Pakai Sabun, Hindari Menyentuh Muka, Isolasi Mandiri menggunakan Dukungan Telemedicine & Tidak pulang kampung, tidak piknik.

Kemudian capaian menurut protokol komunikasi publik tersebut yaitu menciptakan tim komunikasi beserta Kantor Staf Presiden (KSP), BNPB, Kemenkes, dan Lembaga lainnya, termasuk non government.

Ada 3 kelompok kerja pada tim komunikasi yaitu tim analisis dan monitoring yang merupakan dukungan dari BPS, kemenparekraf, Stafsus presiden, Unicef, John Hopkins Universitas. Selanjutnya Tim dewan redaksi, yang menghasilkan daily briefing, jua banyak timnya berikutnya Tim Konten, ini selain dari tim pemerintah juga gabungan dari banyak sekali komunitas seperti Cfds UGM, relawan TIK, & berikutnya tim diseminasi.

"kita optimalkan berbagai jaringan mulai dari Lembaga penyiaran, komunitas, kehumasan pemerintah, dinas Kominfo, dan lain sebagainya," imbuhnya.

Pemerintah pula telah memilih Juru bicara spesifik yaitu Achmad Yurianto. Sementara dalam tingkat wilayah, secara generik telah ada juru bicara dalam gugus tugas covid-19.

Selanjutnya pemerintah telah menciptakan media centre berdasarkan sebelumnya pada KSP, lalu pindah ke BNPB. Website menjadi rujukan primer pula bisa diakses melalui www Covid19 Go Id. Selain sebagai sumber keterangan bagi rakyat, website itu jua sebagai medium bagi Gugus Tugas buat memetakan dan menemukan profil pada bawah permukaan & siapa saja yg telah berinteraksi menggunakan ODP, PDP & Positif COVID19 buat bisa diberikan peringatan secara proaktif.

"Website COVID19 telah kami sampaikan bisa diakses tanpa terpotong kuota. Ini bentuk donasi dari penyelenggara jaringan internet yang terdapat pada Indonesia," katanya.

"Pemerintah jua menyiapkan Chabot, buat menjawab pertanyaan masyarakat melalui pelaksanaan whatsapp," imbuhnya.

Dibuat juga produk komunikasi, yg telah dilakukan oleh Tim konten sendiri maupun kawan-mitra pemerintah baik pada bentuk teks, visual, harga ban fdr audio, maupun audio visual. Di website www Covid19 Go Id terdapat konten-konten official yg telah diproduksi. Sementara buat media sosial dapat diakses IG & twitter @lawancovid19_id, Facebook lawancovid19indonesia & Youtube Lawan Covid19 ID.

Ada Pula diseminasi keterangan, menggunakan memakai pendekatan seluruh media baik lini atas televisi, radio, media cetak, media lini bawah misalnya PSA bandara, billboard, baliho, branding bus & juga media baru yaitu kampanye digital, tik tok, LINE & kanal lainya.

Terakhir adalah koordinasi menggunakan wilayah, melalui surat edaran kepada dinas Kominfo provinsi/kabupaten/kota supaya pro aktif menyampaikan berita terkini tentang penanganan Covid-19.

Selanjutnya mengenai pemahaman publik yg semakin positif, Badan Pusat Statistik (BPS) melalui hasil survei demografi efek COVID-19 diketahui bahwa sebesar 87 persen responden mengetahui kebijakan physical distancing dan 72 persen telah menjalankan himbauan buat permanen berada pada rumah.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat & Hukum BPS, Endang Retno Sri Subiyandani mengatakan pentingnya physical distancing dan permanen berada pada rumah sebagai bagian menurut penerapan kebijakan pemerintah mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang dilakukan untuk memutus rantai penularan virus corona jenis baru penyebab COVID-19.

"Hal ini penting, lantaran keliru satu aktivitas yang bisa memutus penyebaran COVID-19 adalah menggunakan tetap di rumah, bekerja menurut rumah, sekolah menurut rumah, dan beribadah menurut rumah," katanya.

Selain itu, berdasarkan survei sosial demografi dampak COVID-19 tadi, diketahui jua, bahwa sebagian besar  responden telah menerapkan pola hidup yg bersih dan sehat.

Ada sebanyak 83 % responden mengaku, selalu memakai masker pada saat harus keluar rumah. Kemudian 80 persen responden mengaku, tak jarang mencuci tangan selama 20 detik menggunakan sabun, dan 63 persen responden selalu menjaga jeda minimal menggunakan orang terdekat.

Bagi Endang, hasil survei tersebut telah baik, akan tetapi dia tetap mengimbau supaya kedisiplinan dalam melaksanakan protokol kesehatan tadi agar dipertahankan. Sebab, upaya memutus penyebaran COVID-19 sangat membutuhkan kedisiplinan tinggi.

"Hal ini baik & positif, namun tetap wajib  dipertahankan & ditingkatkan, lantaran pemutusan penyebaran COVID-19 butuh kedisiplinan yang tinggi, & kesadaran masing-masing," pungkasnya.